Indonesia beralih ke akuakultur untuk ketahanan pangan

Dunia kelautan dan perikanan di dunia saat ini sedang mengalami revolusi (bila meminjam istilah perjuangan para mahasiswa), khususnya di bidang perikanan. Hal tersebut tampak dari perjalanan produksi perikanan selama satu dekade, dari 2010 ke 2020. Menurut data Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI), sebelum 2010, produksi hasil penangkapan ikan mendominasi produksi perikanan dunia. Namun kemudian terjadi shifiting produksi perikanan, dari penangkapan menjadi budidaya.

Dr. Kusdiantoro, Secretary General of ISPIKANI. Photo credit: Dr. Kusdiantoro

“Perikanan budidaya kini sudah tidak bisa lagi dianggap sebelah mata. Berbeda dengan masa lampau, dimana perikanan tangkap berada di “atas angin”. Tapi kini, perikanan budidaya menunjukkan peningkatan yang melejit dari tahun ke tahun, sementara ikan di laut jumlahnya terbatas,” ungkap Sekretaris Jenderal ISPIKANI, Dr. Kusdiantoro kepada Maritime Fairtrade, Kamis (09/22/2022). Maka, menyongsong momen 100 tahun Indonesia merdeka, ISPIKANI telah menyiapkan konsep Perikanan Emas 2045. Dalam menyiapkan konsep tersebut, ISPIKANI juga kerap membahas perikanan budidaya.

“Indonesia menjadi negara produsen budidaya ikan terbesar di dunia, bukanlah impian semata. Buktinya Cina. Pada tahun 1978 produksi perikanan Cina dari kegiatan budidaya hanya sebesar 1,2 jutaan. Tapi dalam kurun waktu kurang dari 4 dekade, menjadi sebesar 45,5 juta ton pada tahun 2014, terus meningkat hingga sekarang dan menempatkan negara ini sebagai negara produsen ikan terbesar di dunia,” papar Kusdiantoro. Dan sebagian besar, lanjutnya, produksinya bersumber dari kegiatan budidaya. 

Maka dari Cina bisa dibuktikan satu hal, bahwa kegiatan budidaya ikan menjadi solusi dalam peningkatan produksi perikanan sebagai sumber pangan, penyedia protein hewani. “Mengingat produksi penangkapan memiliki faktor pembatas.”

Masalah budidaya

Namun, kegiatan budidaya ikan di Indonesia masih dihadapkan beberapa permasalahan, antara lain ketergantungan bahan baku pakan yang sebagian impor. Selain itu, harga pakan yang tidak kompetitif sehingga margin keuntungan pembudidaya sangat minim. Tak hanya soal pakan impor dan margin yang kecil, juga terdapat keterbatasan ketersediaan dan distribusi induk dan benih ikan unggul, sehingga mengganggu peningkatan produktivitas dan kontinuitas produksi. Itu baru dari sisi budidaya secara normatif.

Belum lagi masalah inovasi teknologi digital, untuk mendukung efisiensi dan efektifitas kegiatan budidaya ikan. Berkaca pada Jepang, Cina, Rusia, dan Eropa, bahkan telah menggunakan augmented reality (AR), virtual reality (VR) dan blockchain di industri akuakultur mereka. 

Sedangkan di Indonesia, jangankan menerapkan advance technology seperti negara-negara tersebut, dukungan lembaga keuangan untuk pengembangan usaha budidaya pun masih terbatas. “Dan terakhir, kita kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang terampil, serta kesiapan mereka dalam menguasai budidaya ikan masih minim,” imbuh Kusdiantoro.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), TB. Haeru Rahayu, mengatakan pihaknya memiliki strategi peningkatan produksi perikanan budidaya melalui program terobosan. Program tersebut telah dilakukan dengan pemenuhan target 2022, yaitu ikan sebesar 7,35 juta ton, udang sebesar 1,34 juta ton, ikan hias sebanyak 2,1 milyar ekor, dan rumput laut sebesar 11,85 juta ton. 

Dan dari permasalahan yang cukup sistematik tersebut, setidaknya di awal langkah, perlu terobosan untuk meningkatakan efisiensi pakan, agar dapat menurunkan kontribusi pakan yang mencapai rata-rata 60-80% dari komponen biaya produksi. Selanjutnya, mengembangkan ekosistem pakan mandiri, sehingga dapat menurunkan ketergantungan pada pakan komersial dan memanfaatkan potensi bahan baku lokal. Budidaya ikan juga sangat tergantung pada induk dan benih ikan unggul, yang cepat tumbuh dan tahan penyakit, “Ini harus terus disediakan dan dikembangkan.”

Untuk upaya meningkatkan akses pembiayaan, ISPIKANI dan KKP mengharapkan adanya suku bunga bank yang kompetitif bagi para pelaku budidaya perikanan, dan memperhatian grace period dalam pembiayaan, sesuai jenis ikan yang dibudidayakan. Sedangkan untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan lapangan SDM, ISPIKANI memberi masukan agar dunia pendidikan bidang perikanan terus mengembangkan modul-modul pelatihan sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) secara lebih spesifik, melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan, sehingga tersedia SDM yang siap kerja.

Konsep Perikanan Emas 2045 sendiri telah diinisiasi oleh para Dewan Profesi dan Pakar ISPIKANI sejak awal 2022. Konsep tersebut menjadi sangat penting diketahui dan dipahami oleh masyarakat, agar sektor perikanan Indonesia semakin diperhitungkan dan diharapkan menjadi prime mover pembangunan ekonomi nasional. Pada beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, China dan negara-negara Eropa, sektor perikanan telah berperan menjadi “mesin pertumbuhan” ekonomi.

Beberapa tema yang berkaitan dengan Perikanan Emas 2045 yang telah diangkat ISKPIKANI ke publik meliputi pengelolaan dan pengembangan industri perikanan, pengembangan mutu produk perikanan, sosial ekonomi pembangunan untuk tata kelola sumberdaya perikanan berkelanjutan, serta pengelolaan perikanan tangkap secara terukur dan berkelanjutan. Pembahasan tema-tema tersebut pun melibatkan seluruh stakeholders perikanan, sehingga diharapkan dapat menghasilkan sebuah blue print pembangunan perikanan Indonesia, sebagai bahan masukan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) periode berikutnya.

Photo credit: iStock/ Violetastock. Stock photo of fish farm

Angiola Harry

Angiola Harry

Angiola is a Jakarta-based award-winning journalist, and a novel and book author. He is also an active microstock photography contributor at Adobe Stock and Shutterstock.

The best maritime news and insights delivered to you.

Here's what you can expect from us:

  • News & key insights covering the maritime industry
  • Expert analysis and opinions on maritime corruption and more
  • Exclusive interviews