Kurangnya SDM Perkapalan dan Maritim Jangan Diremehkan

Kekurangan sumber daya manusia (SDM) bidang maritim dan perkapalan, seharusnya jadi prioritas semua pihak yang bergelut di industri kelautan. Kemudian, permasalahan tersebut bisa dicari solusinya secara bersama-sama dan bahu membahu. Di Indonesia sendiri, secara umum, SDM bidang maritim dan perkapalan memang belum bisa dibilang sudah ideal. Dan secara khusus, kendala kurangnya SDM tersebut ada di wilayah timur Indonesia.

“Kita melihatnya mulai dari sisi SDM hal yang mendasar, hingga yang lebih spesifik. Dan itu semua, masih banyak kekurangan di wilayah timur Indonesia,” ungkap Direktur Pengembangan Bisnis PT. Samudera Energi Tangguh Jazzy Isya Perdana, kepada Maritime Fairtrade, Kamis (15/9/2022). Jazzy menjelaskan dari hal yang lebih spesifik yakni untuk memenuhi kebutuhan SDM yang memiliki kemampuan analitik dan riset, saat ini pihaknya bekerjasama dengan Institut Teknologi 10 November (ITS), Surabaya.

Padahal banyak perguruan tinggi lain yang juga berpotensi tinggi memperkuat generasi muda bidang kelautan dan perkapalan. Adapun PT. Samudera Energi Tanguh adalah salah satu perusahaan dari holding PT. Samudera Indonesia, yang bergerak di bidang pengiriman bahan petrokimia. Maka keperluan akan SDM yang tangguh dan analitik, cukup besar. Apa lagi bila rencana pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara Poros Maritim Dunia terlaksana, maka SDM tersebut harus bisa tersebar luas.

Untuk wilayah barat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, boleh dikatakan SDM tersebut masih relatif mudah didapat. Namun ketika beranjak semakin ke timur, maka SDM akan semakin langka. “Tapi PT. Samudera Indonesia telah menyediakan beasiswa untuk menjaring SDM di wilayah Papua,” ungkap Jazzy. Dia pun berharap, semoga program seperti itu bisa meluas lagi hingga ke wilayah Indonesia lainnya, yang bersinggungan dengan kebutuhan SDM tersebut.

Nelayan rumput laut di Takalar, Sulawesi Selatan, mendaratkan hasil panennya.

Guru spiritual

Selanjutnya, untuk keperluan pembentukan SDM kelautan dan perkapalan dari sisi mendasar, yakni di level sekolah dasar dan menengah, PT. Samudera Indonesia memanfaatkan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang mereka punyai. Yang cukup unik dilakukan PT. Samudera Indonesia adalah mengirim guru-guru mengaji ke wilayah timur Indonesia. “Ya, kami mengirim tenaga guru mengaji ke beberapa wilayah Indonesia bagian timur,” ujar Jazzy.

Memang terdengar seperti spesifik pada lini spritual. Namun pada dasarnya, program CSR tersebut bukan mengkhususkan diri kepada sisi reliji. Karena di PT. Samudera Indonesia sendiri, ada empat hal yang menjadi motto kerja, untuk diterapkan ke seluruh perusahaan yang dinaunginya. Keempatnya adalah Sabar, Tabah, Tekun, dan Iman. Maka untuk membentuk mental dan pribadi yang bisa selaras dengan motto tersebut, salah satu cara yang dilakukan adalah program yang menyentuh spiritual.

“Jadi untuk menciptakan aset berkualitas SDM yang baik, maka harus dimulai dengan memperkuat potensi daerahnya,” jelas Jazzy. Di sisi SDM, setiap daerah tentunya memiliki calon-calon yang akan maju sebagai pemimpin dan teladan. Terutama di wilayah timur Indonesia seperti Nusa Tenggara, Papua, Maluku, dan daerah lainnya.

Maka dengan mengirim guru ngaji, mengirim guru spiritual untuk yang beragama di luar Islam, adalah cara yang dirasa PT. Samudera Indonesia sudah cukup tepat, yakni menguatkan kualitas SDM dari sisi yang dekat dengan nurani. Dengan nurani dan akhlak mulia, maka langkah-langkah yang akan diambil oleh seseorang akan jauh dari hal-hal yang tidak efisien dan non produktif.

Edukasi transportasi

Dari sisi mendasar lainnya, untuk membentuk SDM kelautan dan perikanan yang andal, PT. Samudera Indonesia lewat program CSR mereka, juga melakukan pengadaan tiga perahu untuk mengantar anak-anak sekolah. “Untuk kawasan Muara Gembong, Bekasi. Karena akses untuk anak-anak pergi sekolah, di sana cukup berat,” ungkap Jazzy. Maka tiga kapal penghubung akses, untuk menuju sekolah pun diturunkan, “Ketiga kapal itu memiliki nama depan “Sinar” sebagai indentitas dukungan PT. Samudera Indonesia.”

Kapal-kapal tersebut pun akan dimanfaatkan sebagai edukasi transportasi perairan, bagi anak-anak yang tinggal di daerah pesisir. Muara Gembong adalah kawasan yang kini mulai menjadi destinasi wisata daerah Bekasi. Maka banyak pula anak-anak dari kawasan perkotaan yang jauh dari pesisir, berwisata ke Muara Gembong. Anak-anak kota ini, sebagian tidak mengetahui tentang alat transportasi laut. 

Padahal Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar didunia yang memiliki 17.000 pulau, dimana moda transportasi laut memiliki peranan penting di negara ini.

Bahkan tak cuma di laut dan pesisir saja moda transportasi perkapalan diperlukan. Banyak juga di daerah daratan di kawasan pedalaman, yang memerlukan moda transportasi tersebut untuk menyebrangi sungai besar. Contohnya di Palembang (Sumatera Selatan), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), dan daerah lainnya.

Maka untuk menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap potensi perairan di Indonesia, perlu dilakukan banyak strategi edukasi ringan, sebagai penambah wawasan anak. Setelah keperluan pembangunan SDM dari sisi dasar dan spesifik sudah terpenuhi, maka diharapkan akan semakin banyak generasi muda maritim Indonesia yang kompeten, baik mental dan fisiknya, yang siap terjun di bidang kelautan dan perkapalan.

All photos credit: Angiola Harry

Angiola Harry

Angiola Harry

Angiola is a Jakarta-based award-winning journalist, and a novel and book author. He is also an active microstock photography contributor at Adobe Stock and Shutterstock.

The best maritime news and insights delivered to you.

Here's what you can expect from us:

  • News & key insights covering the maritime industry
  • Expert analysis and opinions on maritime corruption and more
  • Exclusive interviews