Selama Pandemi COVID-19, Sektor Perikanan Tak Terlalu Goyah

Telah banyak sektor ekonomi yang ambruk selama masa pandemi COVID-19 ini. Tapi untuk sektor perikanan, selama masa pandemi justru relatif lebih baik di antara sektor-sektor lainnya. Yang terdampak negatif secara jelas adalah pusat-pusat perbelanjaan, seperti mal dan plaza. Banyak pusat perbelanjaan yang kehilangan okupansi lapaknya, lantaran para pedagang tak sanggup membayar sewa tempat akibat sepinya pembeli yang datang. 

Kemudian maskapai penerbangan, dimana banyak para karyawannya -bahkan termasuk pilot, diberhentikan karena turunnya jumlah penumpang yang melakukan perjalanan. Imbasnya bahkan sampai ke usaha travel agen perjalanan, yang juga terpaksa menutup usahanya.

Namun berdasarkan catatan Badan Pusat Statistika (BPS), sektor perikanan termasuk yang relatif lebih baik, dapat bertahan karena memiliki daya tahan dibandingkan sektor lainnya. Terjadi kenaikan neraca perdagangan dan ekspor produk kelautan dan perikanan, yaitu nilai ekspor pada 2021 mencapai US$ 5,72 miliar atau meningkat 9,82 persen dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan nilai impor pada periode 2021 mencapai US$ 0,5 miliar, sehingga neraca perdagangan surplus US$ 5,22 miliar atau meningkat 9,2 persen dibanding tahun sebelumnya. 

Di masa pandemi ini, juga terjadi beberapa inovasi pemasaran produk perikanan secara digital. Inovasi tersebut membuat pergerakan ekonomi sektor perikanan mengalami peningkatan, disamping terus meningkatnya diversifikasi produk perikanan dan pemberian stimulus ekonomi. Maka Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Perikanan (ISPIKANI) Dr. Kusdiantoro optimis, pasca pandemi COVID-19 menjadi awal untuk bangkitnya perekonomian melalui sektor perikanan dengan meningkatkan kembali produksi dan pengolahan hasil perikanan serta pemenuhan pasar dalam negeri dan luar negeri.

Sektor perikanan juga tampak lebih dapat bertahan, karena permintaan ikan di dalam negeri tetap tinggi. Masih berdasarkan data BPS, permintaan terhadap produk perikanan di masa pandemi relatif tetap meningkat, terutama untuk pasar domestik. Banyak penjual produk perikanan yang menjajakan secara online dan juga dalam bentuk siap saji (frozen dan instan). Karena itulah keterpurukan sektor perikanan di masa pandemi tidak terlalu tampak.

Uji Jejak

Kepala Pusat Pengendalian Mutu Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu (BKIPM), dan Keamanan Hasil Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Widodo Sumiyanto A.Pi, M.M., 

mengatakan terdapat peningkatan volume ekspor produk perikanan (7,17%) pada smester I 2021 dibandingkan smester I 2020. Cina menjadi negara tujuan ekspor hasil perikanan dengan volume tertinggi pada smester I 2020. 

Namun selama pandemi COVID-19, masyarakat perikanan menghadapi tantangan untuk pasar ekspor, seiring semakin menurunnya permintaan pasar, terbatasnya jumlah container ekspor, dan pengetatan persyaratan uji bebas jejak COVID-19 untuk hasil perikanan ke Cina. “Telah berdampak terhadap pengeluaran pembiayaan pengujian jaminan bebas COVID-19 yang terjadi sampai saat ini,” ungkap Dr. Kusdiantoro kepada Maritime Fairtrade, 31 Agustus 2022.

Pelaku usaha, lanjut Kusdiantoro, keberatan dengan adanya kewajiban uji bebas jejak COVID-19 pada produk perikanan, yang sebenarnya belum ada literatur internasional yang menyatakan bahaya virus yang menempel pada benda mati. Adapun Kantor Komunikasi Mutu International menyatakan, Cina merupakan negara tujuan ekspor dengan nilai terbesar kedua bagi Indonesia. Nilai ekspor ke Cina per tahun 2020 tercatat US$ 817 juta. 

Tentunya, para pengusaha ekspor produk perikanan Indonesia akan kualahan untuk mencari pasar lain, lantaran serapan pasar Cina masif. Terlebih lagi, masih ada pangsa pasar yang besar untuk produk olahan perikanan. Produk olahan dengan nilai tambah seperti ready-to-eat atau retail pack akan bertumbuh permintaannya yang berpotensi diekspor ke Cina, khususnya untuk komoditas-komoditas yang sangat berlimpah dan murah di Indonesia.

Namun pada 25 November 2020 lalu pemerintah Cina melakukan keterlacakan produk, serta melakukan inspeksi terhadap produk-produk pangan beku, khususnya produk impor dan termasuk produk perikanan. Pelacakan dan inspeksi tersebut dilakukan untuk menjamin produk yang masuk ke Cina telah bebas kontaminasi jejak COVID-19. Pihak berwenang Cina telah menangguhkan 129 pemasok dari 21 negara impor ke Cina dimana karyawan mereka telah terinfeksi virus. Alhasil 110 perusahaan secara sukarela menghentikan ekspor ke Cina karena tidak mampu memenuhi standar produk yang baru.

Oleh karena itu, supaya ekspor produk pengusaha eksportir produk perikanan Indonesia lancar, produk perlu diuji jejak COVID-19 sebelum diekspor. Laboratorium yang menjadi strategic partner CAIQTEST di Indonesia adalah laboratorium uji MUTU (PT. Mutuagung Lestari). Prosedur yang dilakukan yaitu sampling dan swab Real Time Polymerase Chain Reaction (RT PCR) untuk mendeteksi Sars-Cov-2.

Hasil uji dari laboratorium MUTU langsung terintegrasi ke sistem CAIQTEST serta produk akan mendapatkan label yang mengandung kode sumber (source code) yang diterbitkan oleh CAIQTEST. Produk yang sudah dinyatakan bebas kontaminasi jejak COVID-19 dan mendapatkan kode sumber berbentuk QR code dari CAIQTEST, dapat dilacak keberadaannya setiap label di scan sebagai upaya keterlacakan produk yang dilakukan pemerintah Cina.

Photo credit: iStock/fbxx

Angiola Harry

Angiola Harry

Angiola is a Jakarta-based award-winning journalist, and a novel and book author. He is also an active microstock photography contributor at Adobe Stock and Shutterstock.

The best maritime news and insights delivered to you.

Here's what you can expect from us:

  • News & key insights covering the maritime industry
  • Expert analysis and opinions on maritime corruption and more
  • Exclusive interviews